Wednesday, February 13, 2013

Dear Allah...



dear Allah,
terkadang diri sulit untuk memahami,
apa sebenarnya yang ingin Engkau jadikan kepadaku.
tapi, ku percaya padaMu,
ku percaya Engkau akan memberikanku yang terbaik.

ya latifu ultuf bina...

Saturday, January 26, 2013

Masa

suatu saat kita tenggelam... lalu pingsan...
 

dalam masa tak sadarkan diri itu kita begitu menikmati mimpi yang hadir,
kesuksesan, kegemilangan, kebanggaan, dan lain-lain.
sayangnya itu cuman mimpi,
karena saat kita bangun (!) semuanya hilang, yang ada, kita masih tetap tenggelam.

kita bebas memilih, akan kembali ke peraduan kita dengan mimpi (karena kita anggap realitas begitu buruk) lalu mati, atau bangkit lalu berenang ke permukaan lalu hidup.

saat kita memilih yang kedua, dan saat kita telah sampai di permukaan, ternyata kita sadar bahwa kaki kita terantai, ada banyak saudara kita yang ternyata merasakan hal yang sama. pingsan dan bermimpi.

untuk bisa selamat, maka kita harus menyadarkan saudara-saudara kita yang masih lelap, membangunkannya, dan memberi tahu kenyataannya, bahwa kalian sedang tenggelam! ayo naik bersama!

terkadang kita pun kehilangan kesabaran saat mencoba berusaha membangunkan mereka karena mereka banyak yang tak sadar bahwa mereka sedang bermimpi, atau lebih baik bermimpi daripada bertemu kenyataan yang begitu pahit.

di sanalah kesabaran berperan penting, yakinlah, kita tidak sendiri. banyak kok orang lain yang juga sadar. maka dari itu, salinglah menguatkan satu sama lain, agar bisa sama-sama selamat.

oke, dan ini dinukil dari surat al ashr (:


bismillaah... selamat pagi~

Atas adalah status FB saya pagi ini. Ya, tadi saya nonton video bagus tentang intisari sederhana QS. Al Ashr. Bagus banget. Renyah dan mudah dimengerti. Memang begitulah seharusnya (: Sebenarnya status itu merupakan tamparan bagi saya sendiri, akhir-akhir ini saya sering gabut tidak jelas karena atmosfer liburan yang terlalu panjang. Namun, bagaimana caranya membuat hal tersebut menjadi sebuah peluang bagi saya untuk mempersiapkan masa-masa selanjutnya dengan lebih baik. Banyak baca, bayar janji, brainstorming, nyicil skripsi, nulis-nulis, dan lain hal sebagainya, ternyata bisa dilakukan. Sangat bisa.

Ya, terakhir deh, untuk nambah tamparan lagi, lagu favorit pisan lah tentang waktu. Semoga nampol (:


MASA (Rabbani)

Masa ibarat nyawa bagi manusia
Mestilah diurus dengan bijaksana
Hargailah masa dengan sebaiknya
Supaya tidak rugi

Renunglah masa yang telah berlalu
Ia tak akan boleh datang kembali
Ambillah iktibar untuk diteladani
Agar terbentuk peribadi yang murni

Isilah masa jangan dipersiakan
Rancanglah dengan teliti dan berkesan
Ilmu dicari luaskan pengalaman
Ibadah dilupa Jangan

Perjalanan masa tak menunggu kita
Semakin lama usia bertambah tua
Bertuah kita jika dapat mencapai
Umur dan amalan seiring usia

Masa muda jangan ikut perasaan
Masa tua biasanya serba tak senang
Datang bermacam sakit yang tak diundang
Mulakan ibadat dari sekarang
Hidup dibina berlandaskan kebenaran
Semoga pulang dengan hati yang tenang

Masa di dunia hanyalah sementara
Masa di akhirat kekal selamanya
Marilah tunaikan kewajiban kita
Pada Yang Maha Esa

Masa tidak akan merugikan kita
Bila diatur dengan penuh sempurna
Seperti yang dituntut oleh agama
Hidup pasti kan sejahtera selamanya

Friday, January 18, 2013

Terima Kasihku Kepada Orang yang Telah Berani Menghadapi Ketakutan Terbesar Manusia

Bismillaah...

Sudah beberapa kali saya mengalami hal itu, kehilangan seseorang yang penting dalam hidup (menurut saya). Dan perasaan yang timbul relatif senada. Paling ingat, saat Kakek saya, Aki Musthafa rahimahullaah berpulang. Itu pengalaman 'kehilangan' saya yang pertama saat saya sudah bisa sedikitnya mengerti apa itu kematian. Berbeda halnya saat si Ongkiw (kucing yang suka mampir ke rumah) 'meninggal' juga karena terlindas truk. Perasaanku saat itu biasa saja (maklum, 4 tahun). Saat itu, bulan Syawwal. Satu atau dua hari setelah hari raya. Perasaan bercampur aduk, bingung, sedih, aneh sekali rasanya (waktu itu saya berumur 6 tahun kalau tidak salah). Beliau sungguh merupakan orang yang luar biasa, bagi saya yang baru mengerti enaknya didongengi, enaknya disuapi mie rebus, enaknya mendapat pengasuhan yang tanpa pamrih; penuh kasih sayang. Mungkin saya sudah lupa apa saja yang pernah engkau tanamkan pada diri ini, tapi sungguh, diriku yang sekarang adalah akumulasi dari benih-benih kebaikan yang tertanam melalui banyak orang, salah satunya adalah dari dirimu.

Beliau tidak dirawat di RS, beliau dengan tenang berada di kamar legendarisnya, hingga izrail menjemput. Saya masih sempat cium tangan sebelum akhirnya beliau berpindah dimensi (itu juga karena disuruh ibu). Ah, memori yang luar biasa. Pertama kalinya saya merasakan atmosfer duka sedalam itu.

Selanjutnya nyusul orang-orang seperti Wa Dedi, Eni Onah, yang terdekat Wa Cucu... berbagai perasaan yang sebenarnya relatif sama muncul. Saat berkunjung ke RS Dharmais, menjenguk wa Dedi yang sakit kanker... Ikut menjemput Eni dan Uwa ke RSUD Cianjur, mengikuti iring-iringan ambulans. Pengalaman talkin pertama kalinya untuk uwa di ruang ICU. Momen-momen itu merupakan momen yang memang membuat hati tergetar. Dzikrul Mawt (inget mati) mulai terbersit optimal dalam benak. Sampai pada akhirnya, saya ikut sholat jenazah dan nganter ke pemakaman yang epic banget, TPU Landbouw, Cipanas, Cianjur. Letaknya persis di samping Taman Makam Pahlawan Cipanas. Maka dari itu, jalan yang memungkinkan akses kami menuju ke sana dinamakan Jalan Pahlawan (baru ngeh).

Yang paling berkesan adalah saat di TKP. Sebelum menguburkan mayit, saya mendengarkan (sebut saja) khotbah kematian yang sama dari orang yang sama pula. Beliau adalah Ust Ade Syatibi. Namun sialnya saya tidak mengi'tibari-nya dengan baik, hingga hari ini. Kira-kira pesanya seperti ini:


"kematian itu bukanlah sebuah hal yang luar biasa... karena kematian itu keniscayaan... sama halnya seperti rezeki... atau kelahiran... kita semua akan mendapatkan dia hadir..."

Dahsyat sekali... namun sayang, sering sekali terlupakan, karena sibuknya bergumul dengan urusan keduniaan (yang mudah2an diniatkan ibadah juga), bahkan sibuk dengan ma'siyat yang disengaja maupun tidak.. oh man... haruskah ada orang terdekat yang meninggal dulu baru kembali teringat dahsyatya efek mengingat kematian?? Saya rasa TIDAK, meskipun pada kenyataannya sering ingkar atas pernyataan rasa itu.

Dan baru-baru ini, dapat kabar duka lagi... Saat UAS kemarin, ayahnya kawan sekelasku (Sri/Ceuceu), meninggal dunia, dan saya tidak sempat ta'ziyah ke sana. Beberapa bulan sebelumnya, ayah dari dua teman SMA (Pitri dan Herdina) pun meninggal... Dan beberapa jam sebelum tulisan ini mulai ada, salah satu kawan baik saya, Bilqisti Qiyamul Haq, pun menemui takdirnya. Belum lagi bencana alam yang memenuhi ruang pemberitaan di mana-mana. Di Jakarta, Banten, bahkan Cianjur... Subhanallaah... 

Wahai diri, lihatlah mereka yang telah mendahuluimu. Sungguh, mereka telah menghadapi suatu hal yang sangat ditakutkan sebagian besar manusia. 

Dan kau masih ingkar pada dirimu sendiri? Sejauh mana engkau mengingat dan mempersiapkan kematian terindahmu?

Haruskah ada yang tiada dulu baru engkau menemukan kembali rasa yang hilang itu?
Kalau ya, seharusnya engkau berterima kasih kepada mereka. Dan sungguh kau telah berhutang besar pada orang-orang yang telah mendahuluimu itu. Ilmu itu mahal. Sadar itu mahal, sangat.

Masih adakah hutang yang belum terbayarkan? Masih adakah kebohongan atau hal yang harus diakui kepada orang lain? Masih adakah hal-hal yang sangat mungkin menghalangimu untuk menjemput ampunan Tuhanmu? Hal muamalah, hal yang berkaitan dengan manusia.

Sungguh, Tuhanmu maha luas samudera ampunannya, 
tinggal, apakah kamu mau berusaha menyelaminya?

Pelajaran yang sangat berharga... terima kasih Bilqi, ayahnya Ceuceu, ayah Pitri, ayah Dina, Wa Cucu, Eni, Wa Dedi, Aki Mus, dan semuanya yang telah mendahuluiku... sungguh, pelajaran ini sangat mahal! Seharga nyawamu semua...

Semoga Allah subhanahu wata'ala, yang Rahman, yang Rahim,,,
berkenan memberikan rahmat-Nya yang luar biasa 
dalam kuburmu semua,
dalam mahsyar-Nya nanti,
dalam hisab-Nya nanti,
dalam jembatan shiraat-Nya nanti,
hingga kita, insyaAllah,
reuni di tempat terbaik yang telah dipersiapkan,
atas rahmat-Nya, atas Kasih Sayang-Nya...

insyaAllah, kami pun (pasti) menyusul...
Semoga, kita tidak termasuk orang yang sering menunda,
dalam merangkum pelajaran berharga dari kematian orang-orang terdekat kita,
dalam titik nol kesadaran kita...

Ya, setiap jiwa yang hidup, pasti merasakan mati.

Tulisan ini didedikasikan untuk para pendahulu kami...
atas semangat, senyuman, nasehat, kenangan, dan pelajaran yang tak pernah padam,
hanya saja, kami(nya) saja yang sering (pura-pura) tidak melihatnya.